Jumat, 2008 Desember 26

Judul

Novel elektronik ini berjudul
ARDI
Sejarah kedewasaan manusia setelah turun dari pohon
karya
Daeng Fattah @2008

Kamis, 2008 November 27

Kata Pengantar

Bila aku mati besok..
akan kubelah dadaku
lalu kuberikan hatiku
pada orang yang melahirkanku
agar layar bahteranyakembali terkembang

bila aku mati besok
akan kupangku kau kekasihku
lalu kubawa kedunia mimpi
dimana satu jam serasa setahun

bila aku mati besok
akan kuhadiahkan hartaku pada anak-anak gemilang
agar mereka lebih dekat ke bintang
dan melaju lebih cepat dari cahaya

bukan nisan dari permata
itu hanya jadi sesal buat ibunda
bukan makam dar zamrud
itu hanya jadi tempat dua insan bercinta


sebuah tumpukan tanah di tengah hutan
dengan sebuah atap dari kanopi rimba
agar para pengemis menemukan keteduhan disampingku
saat hujan badai menerpa manusia

iringilah kepergianku dengan tulisan, bukan bacaan dan tetesan air mata
karena sejarah dibentuk oleh
tangan,
bukan lisan dan kesedihan
demikian maklumat cinta buat dunia

Salam perdamaian pada seluruh umat manusia terutama pembaca sekalian yang budiman. Sungguh sebuah kehormatan tak terperi dan sebuah kemuliaan yang tiada tara bisa menghadirkan kepada anda, tentang kisah hidup anda, saya, kita semua, spesies paling cerdas yang pernah ada di bumi ini. Dalam nafas bumi yang mencitra di mekarnya dedaunan dan tetesan air. Walau lamban gerakan kaki kita melangkah di bumi yang dinamis, mari bersama-sama kita menyambut masa dewasa kita yang masih panjang dan jauh di masa depan gemilang.
Ardi. Sekilas pintas nama ini sebuah nama bisaa. Akan tetapi, dibalik nama ini, ia adalah diri kita sendiri, nenek moyang dari manusia, Ardipithecus Ramidus. Ya, kita, manusia yang kemudian memiliki gelar Homo Sapiens, manusia yang bijaksana.
Bagi penulis, inspirasi tokoh Ardi bersumber dari banyaknya kesalah pahaman yang muncul di antara kita mengenai evolusi manusia. Bahkan lebih jauh lagi, ada beberapa upaya menjauhkan pengetahuan ini dari masyarakat, dengan berbagai alas an. Selain itu, nilai-nilai kemanusiaan kita, yang emakin bimbang, mesti di pertegas, apalagi di bawah ancaman perpecahan social budaya dan pemanasan global. Perpecahan social budaya yang muncul dari arogansi sesame bahwa : Kitalah yang paling benar dan orang lain salah. Pemanasan global yang muncul dari arogansi dengan alam bahwa kitalah penguasa alam itu dan bebas berbuat semau kita.

Dalam buku ini akan ditemukan berbagai penjelasan sejarah manusia di kemas secara ringan dan kadang jenaka. Di sisi lain, ungkapan-ungkapan bijak yang membuka tiap judul adalah sebuah refleksi yang patut direnungkan dari kisah-kisah yang disajikan oleh Ardi. Cerita ini di dasari oleh berbagai penemuan ilmiah di dunia biologi, khususnya asal usul manusia. Dibangun oelh usaha gigih penuh perjuangan dari jutaan orang yang bergulat dengan tanah-tanah kering, Lumpur-lumpur di hutan buas dan laboratorium-laboratorium pengap untuk mengungkap asal usul kita, bagaimana kita bisa bijaksana dan berharap kita akan semakin bijak dalam mengelola alam. Walaupun sebagian pembaca akan bingung dengan ketidakselarasan kisah ini dengan kisah-kisah yang ditawarkan oleh orang-orang non ilmuan, penulis mencoba untuk tidak mengatakan inilah faktanya. Bahwa inilah cerita sebenarnya tentang asal usul kita. Silakan pembaca mnilai sendiri, mna yang lebih rasional, mana yang leibh manusiawi, mana yang leibh mencerminkan kebijaksanaan.
Di bagian kedua buku ini, penulis memaparkan sejarah hidup manusia lewat garis waktu. Tidak seperti bagian pertama yang kaya dengan polesan bahasa dan cerita singkat, dibagian ini terdapat garis waktu sesungguhnya dan garis wktu bagian satu.
Di manapun di buku ini, 5 juta tahun kehidupan manusia disingkat menjadi hanya 18 tahun. Penulis membayangkan bagaimana seandainya ada sebuah alat yang mampu mempercepat jalannya waktu dari jejak pertama langkah kita turun dari pepohonan, 5,5 juta tahun silam. 18 tahun menunjukkan sebuah usia kedewasaan. Usia dimana kita berada sekarang. Dengan kata lain, saya merasa bahwa saat ini, manusia baru saja mencapai masa kedewasaan. Baru saja kita menyadari bahwa dunia ini tidaklah seperti yang kita bayangkan sebelumnya.
Dan kita baru sadar bahwa kita adalah mahluk global yang merupakan produk alamiah dari lautan-lautan purba, hutan rawa karbon, reruntuhan pohon-pohon pakis raksasa, bewrjuang hidup di antara raksasa-raksasa dinosaurus, melompatr dari satu ranting ke ranting lainnya dan pada akhirnya turun ke tanah,, berdiri tegak dan menjadi bijaksana. Sungguh kita adalah spesies yang lamban. Sejak kita lahir, yang ditarik dari saat pertama nenek moyang turun dari pohon, butuh waktu 3 tahun 2 bulan (900 ribu tahun nyata) agar kita dapat berjalan tegak, tidak lagi dengan empat kaki. Sebuah mutasi yang menguntungkan telah diseleksi alam dan memisahkan manusia dengan simpanse.
Akhirnya, penulis mohon maaf atas kekurangan dan kekhilafan yang ada di buku ini. Penulis tidak mengaku sebagai juru bicara ilmuan disini. Penulis hanya menceritakan apa yang saya dapatkan dan saya rasa, wajib untuk kita ketahui bersama. Terima kasih.

Minggu, 2008 November 23

BAB I : ARDI TURUN KE BUMI

Duniamu
begitu luas
dan mempesona
tepian-tepian berpagar
pepohonan dengan pakaian
hitam dan tali temali jernih
membuat dirimu terpaku kokoh
di pulau kesuburan tahta Majapahit

saat godam raksasa memancang dirimu
burung-burung yang beterbangan terpana
pada nyala panas yang tersedot dari perut bumi


maka saksikanlah dari ujung-ujung samudera
di pantai laut selatan saat dia mengganti
pakaiannya membersihkan kekotoran
di tubuhnya agar tidak hanyut
engkau bersama debu
agar tidak pupus
engkau bersama
angin

Bruk. Sesosok tubuh kecil berbulu jatuh dari pepohonan. Ardi, sang bayi, ia terlihat euphoria karena ingin cepat-cepat sampai ke tanah hingga tidak hati-hati saat turun. Walau begitu, ia tidak merasa kesakitan. Ia dan teman-temannya telah sering jatuh dari pohon, tapi kali ini pohon tempatnya jatuh tidaklah tinggi.
Tidak ada yang benar-benar tahu siapa orang tua Ardi. Kita hanya tau kalau orang tuanya tinggal di pepohonan dan juga melahirkan saudaranya yang berbeda, sang bayi yang mirip simpanse. Buyutnya lahir di pepohonan, tinggal di dunia yang baru saja bangkit dari kepunahan massal dinosaurus. Saat itu para dinosaurus punah bersama begitu banyak pepohonan. Hutan berkurang karena zaman es sehingga hidup di pepohonan tidak lagi terlalu menyenangkan. Para buyut yang lebih kecil tetap merasa nyaman di pepohonan, sementara bagi buyut Ardi, semakin hari, melompat-lompat di antara ranting semakin melelahkan. Mereka berkali-kali mengunjungi padang rumput yang luas. Tidak ada dinosaurus lagi yang mesti ditakuti. Dan untuk Ardi, pohon telah jadi tempat yang benar-benar membosankan dan melelahkan.

Ardi muncul di sabana Afrika timur. Ia tampak penuh rasa ingin tahu. Menatap dunia baru disekelilingnya. Pada usia tiga tahun dua bulan, Ardi telah mendapat gelar Afarensis. Tapi wajahnya masih mirip kera. Dahi yang datar, wajah yang maju dan tulang alis yang menonjol. Ia telah belajar berdiri dan berjalan tegak. Usia tiga tahun bisa dibilang terlambat untuk perkembangan bayi menjadi mampu berdiri, tapi itulah evolusi. Ia lambat dan berusaha sepenuhnya tanpa dibantu siapapun untuk akhirnya dapat lebih adaptif pada hidup di padang rumput.
Memasuki usia 10 tahun 9 bulan, Ardi telah belajar untuk memotong dengan alat-alat kayu yang dibentuk secara cerdas. Badan dan kepalanya semakin besar. Sungguh demikian, ia masih hidup telanjang bersama hewan-hewan lain dimanapun. Ia telah memakai tusuk gigi untuk mencabut daging yang menempel di sela-sela giginya yang kecil. Dengan otak yang membesar, Ardi telah dapat berpikir simbolik. Berpikir dan berbicara sendiri, dibawah naungan lautan bintang di kegelapan padang rumput.
Penemuan besar terjadi saat Ardi berusia 11 tahun 2 bulan. Saat itu badai melanda sabana tempat tinggal ardi. Ia ketakutan. Mencari perlindungan padapepohonan. Guntur yang keras dan sahut-sahutan, kilat yang terang dan menjilat-jilat. Mungkin baginyaada sesuatu atau seseorang yang marah di langit.
Setelah badai reda, Ardi melihat sesuatu yang menyala di antara pepohonan. Sesuatu yang kuat, tapi tidak pandai. Ardi mengamati cahaya itu, saat ia kekurangan makanan, ia redup dan akhirnya mati. Ardi memunculkan pemikiran brilian. Ia akan memelihara mahluk badai tiu. Risetnya yang berani dan penuh rasa ingin tahu membuahkan hasil. Ia mengamati ada dahan-dahan tertentu yanglambat dimakan oleh mahluk badai itu. Cukup lambat hingga Ardidapat memegang bagian lain dari dahan itu dan membawanya kemana-mana. Ia telah menemukan obor.
Dengan ditemukannya api, Ardi tidak lagi takut pada kegelapan. Dengan hati-hati dibawanya api dan dijaganya untuk tidak mati. Ia merasa bahwa api adalah pemberian dari langit untuknya, hadiah dari para penguasa. Api dilindungi dengan hati-hati. Di beri makan agar tidak mati. Suatu ketika, dengan percobaan yang berani, ia mencoba memberi makan api dengan daging buruannya. Hasilnya adalah sebauh daging dengan aroma yang sedap bila tidak terlalu gosong. Ia juga mencoba dengan air di dalam batu. Ia sangat gembira dengan penemuan-penemuan baru ini. Ia memasak sayur dan tubuhnya semakin sehat. Di malam hari, api menemani dan membantunya mengasah dan membuat tombak. Menjauhkan hewan-hewan liar dan membuat tidurnya tenang. Api adalah harta tak ternilai bagi Ardi.
Pada awalnya kosakatanya berasal dari suara-suara binatang dan apapun yang ia dengar di alam. Perkembangan otaknya yang tambah besar membutnya mampu meramalkan peristiwa-peristiwa alam. Dengan bantuan ini, Ardi menjadi mampu berbicara lancer. Saudara-saudara kera dan simpanse terlihat bodoh dan lemah dibanding dirinya. Ditambah dengan system kekebalan tubuh yang bertambah akibat makanan yang dimasak, Ardi semakin penuh percaya diri. Tentu ada efek samping, Ardi dengan segala kekuatannya, kini menjadi sedikit sombong. Ia tambah berani dan sering menyerang hewan-hewan lain secara berlebihan.
Dari buyut yang berjuang di pepohonan dan hampir punah karena letusan gunung api raksasa, lalu kakek yang berjuang mati-matian dari kepunahan pepohonan lalu orang tua yang hanya mampu berdiri tegak sebentar dan berjalan di jarak dekat, Ardi menjadi sosok yang sangat maju dibandingkan nenek moyangnya. Memasuki usia 12 tahun, Ardi menjadi produk evolusi yang cerdas dan gelarnya ergaster, sang pekerja.

Rabu, 2008 November 19

BAB II MEREBUT GUA

hidup
membawa
beban fantasi
yang berkobar
memancarkan kharisma
hingga indahnya terbawa
ke nurani alam bawah sadar
menelusup halus seperti sutera

diri yang dulu nyata tergores semua
kepastian tapi sekarang dikaburkan oleh aneka
warna yang terbang dan hinggap di jiwa-jiwa impian


selagi kalian terpana ketika kubangunkan dari sepi
carilah eksisku pada kuntum-kuntum ilusi
kejarlah cintaku pada jernihnya
udara hingga kalian
kehilangan logika


Seorang anak berusia 13 tahun yang lamban namun cerdik, demikianlah Ardi saat ini. Ia banyak menghabiskan waktunya mengembara di padang rumput Afrika membawa alat-alat batu tajam sebagai senjata. Kadang ia memungut berbagai buah dan sayuran yang dapat ia makan di dekat sumber-sumber air atau di sekitar hutan. Ia telah pandai berbicara dengan fasih dengan dirinya sendiri pula. Kadang di tengah malam di dekat api unggun, berspekulasi tentang langit dan bintang-bintang.

Hari ini ia tiba di sebuah daerah rimbun di tepi sungai besar. Ia sedang asyik menombak ikan saat sesuatu mendatanginya dari seberang. Sesosok manusia yang mengayuh sampan dari batang pohon yang dilubangi. Bagian belakang kepalanya lebih besar dari Ardi dan begitu pula tulang alisnya, lebih menonjol. Orang ini datang menyapa Ardi.

“Hai, bolehkah saya berlabuh disini?” pinta orang itu kepada Ardi.
“Siapa kau dan benda apa yang kau naiki itu?” tanya Ardi penuh penasaran.
“Saya Erik . Dan ini kendaraan yang saya buat sendiri. Saya menamakannya sampan.” Orang itu memperkenalkan diri.

“Erik. Hai, saya Ardi. Kamu boleh berlabuh disini. Tanah ini bukan milik siapa-siapa. Sampan, alat yang hebat. Dia tidak tenggelam. Pasti dibuat dari kayu pilihan” ucap Ardi.

“Kau mau mencobanya?” tanya Erik.

“Wah, tentu. Mau sekali. Bagaimana?” sambut Ardi.

Erik pun mengajari Ardi mengendarai sampan itu. Ardi naik ke atasnya dan betapa kagetnya ia saat sampan itu bergoyang. Ia melompat dari sampan.
“Whoaaa!!” teriak Ardi.

“Jangan takut. Ayo coba lagi. Belajar menyeimbangkan diri” dukung Erik.
Dengan takut-takut Ardi kembali mencoba, ia berhasil duduk tapi bergerak sedikit saja, sampan itu oleng dan Ardi tercebur ke sungai. “Byuuurr!!!”. Burung-burung di kejauhan beterbangan.

“Ayo semangat!! Semangat !!” sorak Erik. Mungkin ia jadi cheerleader pertama di dunia.
Ardi mengeluarkan ujung lidah dan dengan hati-hati mengambil posisi di dalam batang kayu. Kali ini begitu hati-hatinya ia hingga terpeleset batu kali dan terjerembab menghantam sampan. Sampan itu terbalik.

“Hihihi!!!”. Sambil tertawa dengan sabar, Erik membetulkan sampan. Kepala Ardi keluar dari air dan ia mengibas-ibaskan rambutnya yang keriting sepeti bebek yang habis menyelam. Ia kelihatan kesakitan. Ternyata bibirnya tergigit. Ia naik ke darat dan duduk. Lidahnya dijulurkan karena terasa sakit kalau dimasukkan ke mulut.

“Istirahat dulu. Nanti coba lagi. Oh ya, kau maukan jadi temanku? Aku seumur hidup belum pernah bertemu orang yang bisa di ajak berbicara”, pinta Ardi dengan gaya bicara yang lucu karena lidahnya yang terjulur.
“Tentu saja. Saya juga tidak punya teman. Saya mengembara untuk mencari teman. Sepi banget”, jawab Erik.
“Sudah berapa lama mengembara, Erik?” Tanya Ardi.
“Baru dari tadi saat matahari terbit” jawab Erik polos.
“Hooo?” Ardi keheranan.

“Begini. Saya sebenarnya tinggal di sebuah gua, tak jauh di balik pepohonan di seberang sana. Saya hidup tenang bertahun-tahun disana, sampai ada raksasa datang dan mengusir saya.”

“Raksasa?”
“Ya. Ia berjalan dengan empatkaki. Dia kera hitam yang besar sekali dan menyeramkan. Kalau dia berdiri, tingginya dua kali badan kita. Matanya merah dan pukulannya dapat menggoncangkan pintu goa. Saya ketakutan dan lari ke tepi sungai. Tinggal di tepi sungai saat malam. Raksasa itu tidak pernah pergi jauh dari goa. Saya bahkan tidak sempat masuk ke goa, karena raksasa itu tiba-tiba datang dari rimbunan pohon. Ia telah merampok goa ku. Enam hari saya menunggu dengan sia-sia, hingga memutuskan untuk pergi mengembara” jelas Erik dengan sedih.

Mereka diam sejenak. Ardi sebenarnya ingin membantu. Khususnya karena ia teman pertamanya dan mungkin satu-satunya teman yangbisa diajak bicara yang ada di bumi. Akan tetapi, mahluk yang ia akan hadapi sangat besar dan pasti sulit ditundukkan. Ia pernah melawan harimau gigi pedang atau bison yang sedang sakit atau sudah tua, dan mahluk ini sepertinya lebih kuat dan lebih pintar.
Kedua sahabat itu saling berpandangan. Melihat mata teman barunya, Ardipun luluh hatinya, keberaniannya muncul.

“Mari kita rebut lagi guamu!” Ardi berdiri penuh tekat.

“Wah, benarkah? Kau baik sekali, Ardi. Saya akan membantu sebisa mungkin.”
“Aku harus melihat seperti apa mahluk itu dulu” kata Ardi.
“Yap. Tapi kau harus belajar dahulu memakai sampanmu. Jadi kita bisa menyeberang sama-sama” saran Erik.

Maka kedua sahabat kitapun kembali bermain dengan sampan dan air. Ardi basah kuyup dan setelah beberapa kali tercebur, iapun ahli memakai sampan. Setelah itu, mereka membuat satu lagi sampan dari batang pohon yang rubuh. Ardi juga mengenalkan Erik pada api yang dipeliharanya. Dan setelah bekerja keras seharian, mereka bercengkerama di tepi sungai dengan mengelilingi api unggun. Bercerita tentang pengalaman mereka dan rencana-rencana untuk mengalahkan sang raksasa.
Raksasa hitam yang kekar, demikianlah kean pertama Ardi pada si monster. Mahluk ini seperti gorilla dengan ukuran tiga kali lipat. Ia keluar dari goa ke hutan dan jarang sekali tidur. Untungnya, mahluk ini tidak bisa memanjat pohon. Ardi dan Erik sedikit lega sambil menyusun rencana di atas pohon tak jauh dari goa.
Tibalah sebuah rencana brilian dari ardi. Ia akan memakai mahluk lain yang lebih besar dari sang gorilla untuk mengalahkannya. Ada banyak binatang besar di tempatnya, tapi ardi tidak tahu binatang apa saja yang ada di hutan, tempat Erik berasal.Erik menyarankan badak berbulu raksasa. . Badak ini tingginya sebanding dengan sang gorilla raksasa. Ia punya cula besar di depan dan dapat menghantam apa saja didepannya, bahkan batang pohon besar. Rencananya, Erik akan memancing sang badak menuju ke goa, karena ia hapal jalan di sekitar hutan. Mereka berharap, sang badak akan menyeruduk masuk ke gua dan membunuh gorilla raksasa yang sedang tertidur.

Erik turun dari pohon dan mengendap-endap dalam hutan mencari badak raksasa. Waktunya hanya sedikit dan jarak badak itu harus cukup dekat dari gua agar gorilla raksasa tidak keburu bangun. Ternyata ia beruntung, ada seekor badak yang sedang merumput tak jauh dari gua. Sekarang tinggal memancing badak menuju garis lurus yang langsung ke mulut gua dimana sang gorilla sedang asyik tertidur.

Awalnya badak itu cuek saja dengan Erik. Setelah dijalan yangbenar dan lurus, erik mengolok-olok sang badak seperti kera yang rebut (memang masih keluarga dengan kera sih). Si badak habis kesabaran dan beraksi. Ia menyeruduk kea rah Erik. Tunggang langgang Erik berlari, menerjang semak belukar terus kea rah gua. Sang badak menyusul di belakang. Tepat di depan gua, Erik langsung belok ke kiri dan melompat ke pohon, memanjat setinggi-tingginya hingga tanpa terasa sampai di puncak pohon dan dikerumuni semut merah. Sementarabadak yang beringas tidak dapat mengerem dan terus masuk ke dalam gua. Ardi memperhatikan di cabang pohon yang lebih rendah. Sejenak kemudian erik duduk disampingnya, wajahnya bengkak-bengkak. Bukan karena badak, tapi karena sengatan semut merah. Dengan tegang mereka menunggu hasil peristiwa di dalam gua.

Sebuah teriakan memecah kesunyian. Apakah itu suara gorilla yang menghembuskan nafas terakhirnya? Untuk tahu itu, tidak ada cara lain kecuali Ardi dan Erik memeriksa langsung ke gua. Dengan penuh hati-hati mereka turun. Belum mereka melangkah menuju goa, sesuatu muncul dari mulut gua. Sang gorilla raksasa! Dan ia menyeret bangkai badak yang malang! Kontan Ardi dan Erik ambil langkah seribu ke sungai. Sang gorilla sangat marah dan mengejar dari belakang. Bagi Erik, hari ini ia sial tiga kali, dikejar badak, disengat semut dan sekarang, dikejar gorilla. Tiba di sampan merekapun mengayuh seperti kesurupan. Gorilla raksa muncul di tepi sungai dan gilanya, masih membawa bangkai sang badak. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan sekuat tenaga melemparkan tubuh badak yangmati itu kea rah dua orang yang mengganggu tidur siangnya. Mereka telah sampai ke tepid an keluar dari sampan, ketika tubuh badak raksasa itu jatuh dan menimpa sampan mereka, hancur berkeping-keping.
Di malam hari, ardi dan erik melakukan briefing sambil menikmati daging badak. Erik tidak pernah mengira akan dapat makan daging binatang ganas ini, apalagi yang dimasak. Ardi begitu pula. Setidaknya mereka tidak perlu menombak ikan atau memburu kuda liar untuk makan malam.

“Aku ada ide!” seru Erik tiba-tiba.

“Bagaimana kalau kita beri sang pencuri gua itu daging ini. Badak sebesar ini tidak akan habis untuk kita berdua. Besok juga ia akan busuk. Sebagai ungkapan terima kasih, siapa tau ia mau mengembalikan guaku.” Kata Erik.
“Ide buruk. Gorilla itu jelas pemarah. Bisa-bisa kita yang dimakannya, kecuali…”
“Kecuali apa?” Tanya Erik penasaran.“Kecuali kalau kita beri getah tanaman bius di daging ini. Ketika ia memakannya, ia akan tertidur lama sekali. Kita bisa memindahkannya ke sampan dan menghanyutkannya” demikian ide Ardi.
“Tapi sampan kita telah hancur” balas Erik.

“Kita buat lagi, kita buat sampan yang lebih besar lagi. Cukup untuk menampung si raksasa itu.” Ujar Ardi penuh semangat.

“Ide bagus. Besok kita laksanakan!”
“Yap!”
Setelah sepakat dengan rencana itu, keduanya pun tidur dengan kekenyangan.


Pembuatan sampan baru berlangsung lancer. Ada sebuah pohon besar yang tumbang tak jauh dari tempat mereka dan pohon ini cocok untuk dijadikan sampan. Mereka cukup melubangi tengahnya dengan bantuan alat-alat tajam dari batu dan air sungai. Setelah sampan selesai mereka memuatnya dengan daging badak sisa tadi malam dan beberapa rumpun tanaman opium. Setelah semua siap, merekapun mengayuh bersama menuju ke seberang.
Mereka tiba di seberang dan menyelipkan sampan mereka di rerimbunan tanaman air. Membawa daging dan tanaman ke atas pohon. Di sana mereka menunggu sang raksasa untuk tidur siang, mengolesi daging dengan getah opium.
“Itu dia datang!” bisik Ardi dengan hati-hati.

“Siap-siap” kata Erik sambil memikul daging yang telah dibumbui opium ke punggungnya.
Sejurus kemudian, mereka turun dari pohon, mengendap-endap dan begitu tiba di mulut gua, meletakkan daging di sana dan segera pergi dengan diam-diam.
Cukup lama mereka mengamati, tapi si gorilla tidak keluar dan memakan umpan.
“Mungkin baunya kurang menusuk hidung” kata Ardi

“Kalau begitu kita masak saja” ide Erik.

“Benar sekali. Kau ambil api dari seberang dengan satu kayu obor lalu bawa kemari. Aku akan menusuk daging itu dengan kayu, lalu kita panggang di mulut gua” atur Ardi.
Erik bergegas turun dari pohon. Ia menaiki sampan dan pergi. Tak lama kemudian ia datang lagi dengan obor di tangan. Apinya diambil dari ibu api yang selalu menyala di api unggun mereka di seberang.

“Kemarikan apinya”, rupanya Ardi telah menyiapkan kayu-kayu teratur untuk memanggang daging umpan. Aromanya pasti akan tercium oleh sang raksasa dan raksasa itu bangun untuk memakannya.
“Yuk, cepat kita pergi!” ujar Ardi setelah menyulut kayu pemanggang. Mereka naik kembali ke pohon untuk mengintai.

Asap mengepul dari tempat memanggang daging. Asapnya lebih tebal dari bisaanya, tentunya karena kandungan opium di dalamnya. Ardi dan Erik menggosok mata. Mendadak mereka meraa sangat mengantuk. Ardi mencoba menahan diri pada ranting disampingnya. Tapi rasa kantuk begitu kuat. Erik yang tidak punya pegangan meraih bahu Ardi. Dan serentak mereka terjatuh.
Bruk!!
Mereka terjatuh dari pohon dan tepat ke atas perahu mereka. Karena guncangan tubuh mereka yang jatuh, sampan terserret ke air dan hanyut. Anehnya, Ardi dan Erik tetap tertidur pulas dalam posisi yang berantakan.
Sampan terus hanyut di sungai. Tidak ada yang menahan hingga percikan-percikan air akhirnya membangunkan mereka. Rasa tawar air sungai membasuh bibir dan mata mereka kembali segar. Terdengar suara gemuruh.
“Heh, dimana kita?” Ardi kebingungan.

“Air terjun!” teriak Erik panic. Ternyata mereka terseret menuju air terjun dan suara gemuruh itu tak lain suara air yang terjun bebas dari sungai dimana sampan mereka berada. Tak lama lagi nasib mereka akan sama. Ardi jadi ikut panic.
Untung bagi mereka. Ada sebuah tali dari akar-akaran yang menjuntai dari sebuah pohon di dekat bibir air terjun. Dengan cepat Ardi meraih tali itu. Erik melompat ke tali yang satunya lagi. Keduanya bergantungan disitu sambil melihat nasib sampan besar mereka yang jatuh dan hancur berderai di bawah sana.
Ardi dan erik memenajat tali ke dahan pohon besar. Ada seekor ular yang sedang santai. Karena kesal Erik menendang ular itu ke sungai. Malangnya, ular itu melilit kaki Erik dan membuatnya terpeleset, untung Ardi sigapmenangkap tangan Erik.

Setelah melepaskan ular yang protes itu, Erik dan Ardi termenung. Mereka mencoba mencari tahju kenapa mereka bisa sampai ke air terjun itu. Akhirnya Ardi tahu kalau asap daging yang mengandung opium itu telah membius mereka. Bila mereka saja terbius, apalagi si gorilla. Mungkin ia akan tertidur hingga beberapa hari. Itu kesempatan baik, sayangnya mereka tidka tahu ada dimana sekarang.

“Gimana lagi nih?” Tanya Erik

“Kita susuri sungai ini ke atas, sampai ke tempat kita atau gorilla itu berada. Ini kan sebelah kiri. Berarti kita akhirnya akan sampai di tempat ibu api. Semoga ia belum mati.” Harap Ardi.

Merekapun turun dari pohon itu. Erik terpeleset karena batang pohon itu licin oleh lumut. Ardi sedikit lebih beruntung.

*******************
Mereka akhirnya tiba di tempat ibu api. Ibu api terlihat sangat redup. Ardi cepat-cepat menambah kayu baker supaya ibu api tetap hidup. Kalau mati, mereka harus menunggu badai datang agar bisa memelihara ibu api lagi, itupun kalau beruntung.
Setelah api unggunnya menyala terang, Ardi mengurut kakinya. Erik malah terbaring kelelahan disampingnya, tepat di atas tikar dari kulit badak berbulu.
“Kita gagal terus” keluh Erik.

“Huff. Jangan menyerah. Aku masih punya ide.” Kata Ardi.

“Apa?”
“Kita jebak si gorilla dengan tali akar. Lihat betapa kokohnya tali itu menopang badan kita tadi. Kalau badan kita berdua bisa, mungkin si gorilla juga bisa.”
“Maksudmu ia kita gantung?” Tanya Erik

“Iya. Kita buat jebakan di depan gua. Saat ia keluar tali itu akan menarik kakinya. Ujung tali yang satu dihubungkan ke pemberat. Saat kakinya ada di dalam tali jerat, pemberatnya kita jatuhkan dari pohon. Dan ia akan langsung terjebak dan tertarik oleh pemberat” usul Ardi.

“Lalu setelah itu?” Tanya Erik lagi

“Pemberatnya jatuh langsung ke sungai. Jadi ia akan terseret dan tenggelam.”
“Kalau begitu pemberat itu harus lebih berat dari badannya. Pakai batu yang sangat besar. Ada di dekat gua. Kita harus mendorong batu itu hingga ke tepi sungai. Posisinya harus sedemikian hingga kita cukup mendorongnya saat si gorilla sudah terjebak” tambah Erik.

“Yap, demikian”. Dan rencana ketiga pun disusun.


Mereka meletakkan tali berbentuk jerat di mulut gua. Bentuknya sepeti laso besar yang bila ditarik akan mengecil dan mengikat apa yang masuk ke dalamnya. Ardi menunggu di balik pohon sementara Erik berada di tepi sungai, siap menendang batu besar yang jadi pemberat.
Saat yang ditunggu tiba, sang gorilla keluar untuk mencari makan. “Sekarang!!” teriak Ardi

Si gorilla menoleh tapi Erik lebih sigap. Batu raksasa itu berguling ke air dan menarik tali dari akar tanaman.

Brukkk!!!
Tubuh gorilla raksasa tergantung dan terus naik ke atas. Ardi dan Erik berharap si gorilla akan terseret hingga ke sungai dan tenggelam.
Erik dan Ardi bersorak gembira. Tapi sorakan mereka Cuma sebentar.
Jdukkk!!!
Tubuh gorilla raksasa jatuh tepat di depan mereka

“Aaaah!!!!” teriak mereka terkejut. Refleks mereka lari ke sungai. Ternyata tali akar tidak cukup kuat menopang berat si gorilla.
Wajah gorilla itu begitu penuh amarah hingga Ardi dan Erik mengayuh cepat sampan mereka yang entah generasi ke berapa.
Raut wajah Erik di hari ke enam petualangannya dengan Ardi terlihat semakin murung. Demikian pula Ardi. Pagi itu Ardi dan Erik duduk di tepi sungai. Langit tampak mendung.

“Erik, kita harus melindungi ibu api, sebentar lagi hujan. Ia bisa mati” ajak Ardi.
“Bagaimana Ardi?” Tanya Erik

“Saya juga tidak tahu. Oh. Hujan telah turun. Tidak, jangan mati….” Ardi putus asa saat hujan mulai turun. Api unggunnya akhirnya padam. Hujan bahkan kian lebat.
“Brrr…dingin sekali. Kalau saja kita da di gua ku, pasti hangat,” kenang Erik.
Keduanya meringkuk kedinginan di bawah pohon. Semuanya basah.
“Coba, pertama yang kita coba, kita dapat seekor badak berbulu, percobaan kedua kita hampir jatuh di air terjun kalau tidak ada tali akar dan ketiga kita berhadapan langsung dengan wajah si gorilla itu” ingat Ardi.
“Yap. Tapi percobaan pertama itu menguntungkan. Daging badak itu habis dan yang tersisa adalah kulitnya yang lebar ini” kata Erik sambil menunjuk kulit badak yang mereka duduki.

Ardi melihat ke kulit itu. Rasanya hangat. “Minggir sebentar” pinta Ardi
Ardi mengamati kulit badak itu. Ternyata ia tidak tembus air.
“Wah. Ini lebih hebat dari dedaunan” serunya. “Coba”. Ia meminta Erik berjongkok di bawah kulit itu. “Iya, tidak ada air!!” seru Erik.
“Hehe. Bagus juga. Tapi kita tidak bisa memegang kulit ini terus. Harus ada kayu yang menahannya” pikir Ardi.

Setelah melakukan beberapa percobaan dengan macam-macam kayu, batu dan tali. Akhirnya mereka menemukan bentuk yang paling nyaman. Sebuah tenda.
Horeee…
“coba masuk. Lihat di sini hangat dan tidak ada air” kata Ardi senang.
“Wah, kalau kita bawa ibu api baru ke dalam tempat ini, pasti lebih hangat lagi ya”
“Benar. Saat hujan reda kita cari ibu api baru” tekad Ardi.
Demikianlah, akhirnya persaingan dengan spesies lain mendorong mereka menemukan tempat tinggal yang tetap. Mereka tidak lagi tinggal di gua atau mengembara, mereka telah tinggal di rumah sederhana.

BAB III : BANGUNAN MISTERIUS

telah terekam dalam ingatan sang elang bijaksana
saat cincin emas kusematkan di jemarimu
namun kau menyematkan cincin es di jemariku
dan membuatku menggigil sepanjang jaman

Sudah 17 tahun sejak Ardi, sang bayi, tinggal di pinggiran hutan dan padang rumput dan hidup di bawah pepohonan. Sejak itu kepalanya bertambah besar dibandingkan badannya hingga ia mampu berbicara. Dan sekarang, iklim telah berubah, ia dan sahabatnya Erik tidak lagi tahan hidup di tenda dari kulit hewan dan mesti mencari tanah yang lebih hangat.

“Erik kita harus pergi dari sini” pinta Ardi

“Mengembara lagi? Yup, aku setuju sekali. Padang ini saudah tidak bersahabat. Ikannya semakin sedikit” kata Erik

“Kalau begitu kita ke utara. Di selatan ada si gorilla itu dan banyak hewan buasnya. Di utara, dibalik gunung itu mungkin ada padang yang lebih hangat” kata Ardi sembari menunjuk ke gunung yang menjadi latar belakang padang mereka.
“Kita perlu alat-alat potong yang banyak dan tenda kita dan ibu api juga harus dibawa” saran Erik agar mereka dapat nyaman di perjalanan.
“Ayolah klau begitu. Kita harus menyusuri tepi hutan agar tidak berbahaya” kata Ardi sambil berdiri.

Maka berangkatlah kedua sahabat ini menuju utara. Tidak banyak barang yang mereka bawa. Ardi menggendong kulit badaknya sambil memegang kapak batu. Kapak itu berupa batu tajam yang diasah dan diikat pada gagang kayu keras. Erik membawa pisau-pisau batu yang diselipkan di pinggang dari tali tanaman dan obor yang menyala. Mereka masih menganggap api sebagai mahluk hidup dan untuk itu harus dijaga agar tidak mati. Karena itu , walaupun hari siang yang terang mereka tetap membawa obor menyala.

Setelah berjalan lama, malam pun tiba. Mereka terus berjalan karena merasa belum lelah.fisik mereka lebih kuat dari kita. Mereka berharap sampai disebuah tempat yang tidak ada harimaunya sehingga mereka dapat tidur tenang.
Mereka tertegun saat menemukan sesuatu yang tidak terduga, sebuah bangunan dari kayu. Sebuah kumpulan kayu yang jelas tidak alami. Mirip tenda mereka, hanya lebih besar dan terbuat dari kayu. Ardi dan Erik mendekat dengan hati-hati.
“Ssst. Mungkin ada orang. Lihat ini tempat masuknya, coba lihat” kata Ardi meminta erik masuk, karena ia yang membawa obor.

“Ooo. Tenda ini besar sekali. Lembah ini pasti aman sehingga bisa ada orang yang menghabiskan waktu membuat ini. Tapi sepertinya sudah ditinggalkan” kata Erik.

“Iya nih. Kita bisa tidur disini” kata Ardi sambil memeriksa sekeliling. Bagian dalam rumah ini amat sederhana bagi ukuran kita. Hanya tongkat-tongkat yang disusun berjejer yang ada juga dibuat lantai dan atap. Tapi bagi para remaja purba kita, ini teknologi yang maju.

“Lihat, ini kulit binatang yang aneh, seruErik sambil menunjuk sehelai kulit

“Wah” Ardi memeriksa kulit hewan itu, ada jahitan-jahitan dari tali tanaman yang menyambung ujung-ujung kulit. Sebuah baju
“Binatang apa yang kulitnya seperti ini ya?” Tanya Erik

“Mungkin hewan seperti kuda nil tapi badannya separuh kuda”

“Mana ada hewan seperti itu. Mungkin gorilla yang kaku dan tangannya putus” Erik mengajukan hewan hipotesis lainnya.

“Tidak, ini campuran hewan dan tanaman…”kata Ardi menunjuk jahitan
Ardi dan Erik kemudian sadar kalau kulit yang mereka temukan itu bukanlah murni dari satu hewan. Setelah mengernyitkan dahi mereka yang pendek, Adrdi tiba pada sebuah kesimpulan.

“ini digabungkan. Kulit hewan dan tali digabungkan oleh seseorang. Lihat, badan kita bisa masuk ke lobangnya” kata Erik.

“benar sekali. Coba masukkan semua” pinta Erik

Ardi memakai baju itu. Kebesaran tetapi cukup menutupi badannya. “Woaaa…hangatnya!!”
“Coba..coba. woaaa. Enak. “ kata Erik setelah mendapat giliran memakai baju itu.
“”Kita mesti giliran memakainya. Karena kamu penemunya, kamu pakai dulu. Besok malam giliranku”

“Kalau yang punya tenda ini datang, kita mesti mengembalikannya” kata Erik
“yup. Dan berterima kasih juga” kata Ardi.

Maka malam itu mereka beristirahat di rumah dadakan itu. Ardi berbaring sambil menatap baying-bayang yang menari-nari di atas kepalanya, membayangkan seperti apa pemilik rumah itu, hingga akhirnya mereka berdua terlelap.
Pagi itu mereka dikejutkan oleh teriakan nyaring dari luar. Ardi benar-benarkaget hingga refleks menyambar sesuatu yang ada di sampingnya. Ia selalu meletakkan kapaknya disamping kirinya. Ia mengintip lewat dinding.
“Astaga, mahluk apa itu” kata Erik menggosok matanya. Ia menemukan lubang yang lebih besar. Yaitu pintu masuk rumah itu sendiri.
Seekor mammoth. Ya. Gajah raksasa dengan gading panjang melintas di dekat rumah mereka. Binatang itu tidak sadar kalau ada manusia di dalam rumah ketakutan melihat kebesarannya.

“sungguh, ini jauh lebih besar dari badak berbulu kita” seru Ardi
“Bagaimana kalau kita jadikan makanan. Jarang ada mangsa membangunkan kita pagi-pagi” seru Erik bersemangat. Tangannya telah menggenngam pisaunya dengan kuat.

“Kau gila. Melawan gorilla saja kau tidak berani. Tapi saat bertemu mahluk ini malah berani” jawab Ardi heran

“gorilla itu beda. Dia pintar. Tapi mahluk satu ini tampaknya bodoh. Lihat walaupun besar, ia tidak sadar kalau kita ada di dekatnya” tambah Erik.
“Kalau begitu, kita butuh senjata yang lebih kuat daripada kapak ini,” kata Ardi
Erik mengamati sekeliling ruangan dan matanya tertuju pada tongkat kayu panjang yang menjadi lantai rumah. Ia segera mengambilnya dan melancipkan ujungnya. Ia ingat pernah memakai cara ini untuk menggali ubi. Tombak paling efektif untuk serangan yang tiba-tiba. Mengendap-endap dan mebunuh hewan dari jarak jauh. Mereka meruncingkan semua kayu yang ada di lantai hingga lantai rumah itu habis dirubh menjadi tombak.
Ardi mulai paham dan mengumpulkan semua tombak. Ia paham mengapa tombak tidak dapat dipakai untuk si gorilla tapi dapat untuk si mammoth
“Ayo berangkat!”

Erik kali ini memandu jalan. Kedua pemburu mengendap-endap dan menjaga jarak aman.

“Kita bisa lempar dari sini” kata Erik

“Satu dua tiga!” Erik dan Ardi serentak melemparkan tombak-tombak mereka sekuat tenaga ke arah mata mammoth dan tepat menancap.
Sang mammoth panic. Erik dan Ardi berlarian memutari mammoth dengan gesit sambil menghujaninya dengan tombak. Begitu cekatan dan tanpa kenal lelah. Badan mamotrh penuh dengan tombak yang menancap. Setiap kali tombak-tombak habis, Erik atau Ardi berlari mencabuti tombak dari badan mammoth dan menancapkannya ke mammoth buta yang malang. Lama sekali mereka berjuang hingga akhirnya sang mammoth roboh dan akhirnya mati. Ardi dan Erik kegirangan.
“Ini buruan terbesar seumur hidupku!” kata Erik berlari ke bangkai mammoth.
Ardi menyeka keringatnya, “Aku akan mengambil ibu api untuk memasaknya” katanya menuju ke rumah.

“Cepat, cepat, udah lapar nih. Hehe” kata Erik kegirangan. Ia mewnari-nari di atas perut mammoth.

Ardi telah kehabisan tenaga. Ia berjalan ke arah rumah yang cukup jauh jaraknya, sehingga terlihat sangat kecil di ujung sana.

Erik duduk dengan bangga di atas perut mammoth. Saat ia tenang, tiba-tiba beberapa mahluk mendekat. Mahluk-mahluk yang ingin merebut daging mammoth darinya, para serigala.

Erik dengan cepat merogoh pisaunya, ia segera berdiri. Para serigala mendekat dan tampakganas “Grrrr…”

“Minggir…minggir, pergi, ini punyaku” teriak Erik sambil mengacung-acungkan pisaunya ke depan.

Malang. Teriakan itu justru dianggap perintah untuk menyerang oleh para serigala. Mereka melompat dan menerkam Erik. Menghadapi belasan serigala, Erik tidak mungkin selamat dengan hanya berbekal pisau. Seekor serigala menerkam lehernya dan menggigitnya. Erik tidak bergerak lagi. Ia tewas.
Ardi membawa ibu api ketika ia melihat kerumunan serigala disekitar bangkai mammoth. Betapa terkejutnya ia melihat tubuh Erik juga menjadi bagian dari sarapan para serigala buas itu. Menyerang mereka jelas mati konyol. Ardi kembali ke rumah dan meratapi wafatnya sang sahabat. Ia mendengar suara elang-elang botak yang berputar-putar di atas pesta para serigala. Erik menelan liurnya, pahit dan perih, seperih hatinya. Ingin ia berlari menerjang para serigala itu. Tapi ia tidak bodoh. Ia ingat kata-kata Erik bahwa mammoth itu lemah, karena ia bodoh.

Sore itu pesta para serigala dan burung-burung elang telah usai. Ardi berjalan ke tempat bangkai mammoth. Tubuh Erik telah hancur, mungkin separuhnya telah lenyap dibawa lari para pemangsa. Hari itu ia benar-benar kehilangan selera makannya. Ia menguburkan sisa-sisa tubuh Erik dan kemudian tidur dengan penuh duka cita.
Hari ini Ardi memutuskan untuk berhenti bermuram durja dan meneruskan perjalanan. Ia membawa satu buah tombak dengan pisau Erik di ikatkan di ujungnya, di tangan kiri dan obor. Sementara itu pisau batu dan kapak batu di pinggangnya, diselipkan di ikat pinggang tali.

Ia mengenakan baju kulit baru yang memang menurut peraturan yang ia buat, hari ini gilirannya untuk memakainya. Ia meninggalkan kulit badak bulunya karena dianggap telah terlalu banyak bawaan. Ia harus gesit. Siapa tahu nanti ia bertemu dengan kawanan serigala atau harimau.

Ardi teringat bagaimana Erik mati, lehernya robek di terkam serigala. Ardi memegang lehernya karena bergidik. Ia merasa sesuatu yang tumbuh. Sebuah dagu. Ya, sebuah dagu. Ardi telah memiliki dagu. Hasil evolusi untuk perlindungan terhadap terkaman hewan buas di leher. Ia tersenyum. Ia kali ini telah pantas meraih gelar sapiens, sang bijaksana.

Menjelang malam, ia telah berhasil memburu seekor burung besar. Ia beristirahat setelah kenyang di bawah pohon, diterangi obornya. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu di balik rerimbunan semak.

Cepat Ardi meraih kapaknya dan menunggu apa yang tersembunyi di semak untuk keluar. Lama ia menunggu tapi mahluk itu sepertinya enggan keluar. Ardi pun memberanikan diri membuka semak dengan ujung tombak. Yang ia temukan adalah seekor serigala. Serigala itu memakan tulang-tulang sisa buruan Ardi. Emosi Ardi naik. Ia ingat tentang Erik. Tapi apa yang harus ia lakukan? Membunuh serigala itu? Ia mungkin akan melolong dan memanggil teman-temannya. Bila telah demikian, Ardi tidak akan dapat selamat. Apa lagi serangga satu ini berani sekali, ia tidak takut pada api. Ardi pun memutuskan untuk membiarkan serigala itu. Ia malah memberi bagian daging buruan yang masih tersisa.
Esok pagi saat Ardi berangkat, serigala itu tampak mengikuti dari belakang. Ardi tetap waspada dan menjaga jarak. Mungkin serigala itu menungu ia lengah. Tapi telah seharian, serigala itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang. Saat Ardi mendapat buruan dan memakan buruannya, serigala itu menunggu sabar. Ardi memberinya bagian dan serigala itu semakin dekat dengannya. Kini tahulah Ardi kalau sang serigala sesungguhnya sedang sakit. Mulai sejak itu, Ardi selalu ditemani sang serigala. Ia menjadi anjing pemburu pertama di dunia.
Semakin hari sang serigala semakin sehat dan kuat, tapi semakin pula ia setia dengan Ardi. Kini Ardi memiliki sahabat baru. Tidak bisa diajak bicara memang. Tapi ia sangat berguna. Canis, demikian nama serigala itu yang diberi Ardi.
Malam itu, Ardi belajar meniru lolongan Canis. Sebuah lolongan yang berbeda dan bernada, lebih seperti musik. Ardi menyukainya. Ia menyanyi dan manri mengelilingi api unggun. Canis melingkar di pojok sambil membuka sebelah matanya. Canis sepertinya setelah sakit, ditolak oleh kawanannya dan saat ini, ia punya seorang manusia untuk di jaga. Ia merasa punya tujuan hidup lagi. Ardi adalah tuan yang harus dilindungi.

Malam selanjutnya Ardi sedang beristirahat. Canis ayik berputar-putar di dekat Ardi, membersihkan sisa-sisa makanan yang bertaburan di tanah. Tiba-tiba ia terjaga dan Canis pun menggoggong. Ardi sontak berdiri. Sesuatu di rerimbunan tampak berlari. Ardi memberi isyarat agar Canis tidak mengejarnya. Mungkin babi hutan atau hewan lain. Ardi dan Canis sudah kekenyangan dan tak berniat makan. Kembali Ardi berbaring hingga ia sadar, hewan liar tidak pernah ada yang berani mendekat ke perapian. Mungkinkah ia serigala lain yang sakit seperti Canis dulu? Tapi ia lari. Berbeda dengan Canis dulu. Rasa penasaran menyelimuti Ardi.
Beberapa saat kemudian, Canis kembali menggonggong. Jelas mahluk itu mendekat kembali. Ardi segera siaga. Kali ini ia memberi tanda Canis untuk mengejar pengintai itu.

“Krosak!!!” Guk, Guk, Guk!!!

Canis berhasil menangkap mahluk itu. Ardi memburu kearahnya sambil membawa tombak. Betapa terkejutnya Ia ketika melihat mahluk apa yang mengintainya.
Seorang manusia dan lebih tepat lagi, manusia yang berbeda, seorang wanita. Wanita yang badannya kekar dan besar. Pipinya besar dan menonjol. Kepalanya lebih maju ke depan dan hidungnya besar. Berbeda dengan Ardi, ia tidak memiliki kening dan dagu. Ardi menodongkan tombaknya, “Siapa kau?”
“Aku, aku yang punya itu”, ia menunjuk pada baju yang dipakai Ardi. “Itu punyaku!”
Kau yang membuat tenda besar dari kayu itu?” Tanya Ardi penasaran.
“Benar.”
“Lepaskan ia Canis. Nama saya Ardi, siapa namamu?” Tanya Ardi sambil membantu gadis itu berdiri.

“Ninda”, jawabnya singkat.

“Terima kasih telah membuatkan tenda kayu itu. Kamu lapar?” Tanya Ardi lagi.
Gadis itu mengangguk. Ardi menarik tangannya dan jalan Ninda tertatih-tatih karena terluka saat Canis menyergapnya. Mereka duduk di perapian dan Ardi memberikan sepotong daging.

“Makanlah, kau akan tenang. Canis tidak akan menggigitmu lagi, selama Ninda tidak mencoba menyakiti saya” kata Ardi

“Terima kasih ya, pak.” Kata Ninda.

“Tak perlu panggil bapak. Kau mau bajumu kembali?” Tanya Ardi.

“Tidak. Saya sudah punya. Saya tertarik dengan cahaya yang kau miliki ini. Hangat, seperti di dalam rumahku,” kata Ninda.

Lalu mereka bercakap-cakap. Dalam waktu singkat mereka telah akrab. Ninda walaupun berbadan besar,sangat feminine. Ardi, walaupun kurus, sangat menarik bagi Ninda, terutama dengan kening dan dagunya itu. Ardi punya teman baru yang menambah ramai perjalanannya.
Ninda memutuskan ikut dalam perjalanan ke dunia baru. Ardi dengan gagah memimpin kelompok. Ardi telah belajar menghibur kelompok dengan tarian , nyanyian, lukisan dan karya seni lainnya . Ninda menghibur Ardi dan Canis dengan rangkaian bunga dan pakaian tebal dari kulit kayu dan kulit hewan buruan.
Hari ini mereka tiba di pantai Afrika. Ardi dan Ninda tercengang pada lautan luas. Belum pernah mereka melihat air begitu banyak. Ardi masuk ke air dan menari-nari. Ninda dan canis mengikuti. Merek gembira. Ninda memutuskan tinggal di situ. Tapi Ardi tetap pada rencananya. Ia akan menyeberangi lautan ke negeri utara yang hangat, bila memang ada. Maka merekapun membuat sampan besar. Sebuah kapal besar untuk menyeberang. Mereka membawa bekal-bekal makanan dan minuman selama di perjalanan.

Setelah berhari-hari di lautan, tibalah Ardi, Ninda dan Canis di tanah utara. Sebuah negeri hangat. Penuh dengan tanaman berbunga dan rumput segar. mereka berlari turun dari kapal dan menikmati keindahan tanah impian. Ardipun terharu, mereka telah berhasil.

BAB IV: MAKAN TANAH

Akulah bumi yang tua biarlah kunyanyikan untukmu lagu perdamaian yang telah kunyanyikan ribuan tahun saat yang ada hanya angin yang bertiup
Kekasihku yang tercinta Kendalikanlah dirimu rasakan kedamaianku kedamaian dari bumi yang tua
Dan saat aku melihatmu lahir datang dan pergi aku melihat dan aku merasa engkau mengalir bersama kehidupan
Dan aku tahu saat aku merasa damai bersamamu
Saat dimana engkau mengkaruniakan sungai kehidupan dari Tuhan saat engkau memahami spiral yang mengalir dari Ibunda angkasa agung
Lalu kau hidup dengan keagungan dan penghormatan kau menghormati yang tua dan yang maha bijaksana manusia, tanaman, hewan dan bebatuan
Kau paham tempatmu di alam semesta ini dan kau tau engkau harus memberi dan menerima selaras dan kau memahami aliran hari dalam spiral masa dan kau memuliakan mereka sepanjang masa dan kau membimbing dan memimpin mereka yang muda dan kau memuliakan perubahan dan transisi dalam hidupmu memberi dukungan dalam diri yang lain


Dan begitulah kau muliakan aku dan semua kekasihku bila kau memuliakan dirimu sendiri Namun saat engkau melupakan dan terburu nafsu dalam hidupmu dalam kepanikan hidup maka kita tidak akan bersua lagi dan aku tak dapat menghadiahimu... kedamaian sejati
Tenanglah kekasih-kekasihku dan dengarkan lagu bumi untuk perdamaian sejati
Bumi yang tua ini adalah pria alfa tubuhnya keras dan tak dapat diungkap dan engkau, andromeda adalah wanita omega engkau ringan, mengalir lembut dan halus
Dalam persetubuhan mereka bumi dilipat dan dipeluk oleh dewi-dewi galaktik gelombang nafsu dan hasrat mereka adalah gelombang cahaya dan energi yang engkau rasakan sekarang...
Engkau dapat berbagi dalam birahi mereka bila engkau menjumpai nafsumu sendiri inilah pernikahan bumi dan langit
Tancapkanlah kakimu di tanah, kekasihku tetapi gapailah bintang-bintang
Jadilah seperti sang pohon yang agung Berakar di bumi tetapi lantang menggapai cahaya

Ardi sudah hidup bersama Ninda 9 bulan di negeri baru dan membuat sebuah rumah di pinggir pantai. Kita menyebutnya Eropa. Di masa ini Ardi telah menemukan panah, busur, perangkap hewan,lem, jaring dan yang terpenting adalah bercocok tanam. Hidup tidak sekeras masa berburu. Pekerjaan Ardi sehari-hari selain mencari makanan adalah memeriksa tanah-tanah baru yang terungkap saat permukaan laut terus turun. Ninda mencoba-coba kesenian baru, diantaranya menemukan dawai. Canis badannya telah mengecil dan lebih pantas disebut anjing sekarang, makanan melimpah ruah dan ancaman hewan liar semakin minim.
Kemudahan hidup membuat kekuatan mereka menurun. Ninda merasa kelelahan membawa ulekan batu, kuali batu, panci batu dan barang-barang dari batu lainnya. Beberapa kali ibu jarinya bengkak karena tertimpa alat-alat batu yang dibawa kesana kemari untuk kebutuhan. Pada saat ibu jari kakinya yang masih bengkak tertimpa panci batu gara-gara membuat sayur ikan, kesabarannya hilang.
"Sayaaaangggg.... Sakiiittt.Hiks!"
"Ada apa sayang?" Ardi tergesa-gesa. Pakaiannya lebih keren dengan motif kotak-kotak, bukan dari kulit binatang lagi.
"Tertimpa lagi! Hiks, ditiup dong!" pinta Ninda manja. Ardi meniup jempol kaki Ninda yang bengkak.
"Sayang gak hati-hati sih. Bengkak kemaren kan belum sembuh. Seharusnya jangan merawat bunga-bunga dulu" kata Ardi yang bibirnya juga bengkak karena kebanyakan meniup.
"Enak aja. Kamu itu seharusnya memikirkan cara, gimana supaya gak terjadi kecelakaan seperti ini lagi, " protes ninda. Dia kesal sendiri.
"Benar juga ya. Kalau begitu hari ini saya yang mencuci dan menjemur pakaian. sambi lsaya mencari cara menyelesaikan masalah ini" kata Ardi menenangkan kekasihnya.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++
Sambil memancing di tepian pantai, dibawah pohon kelapa, Ardi merenungkan solusi masalah istrinya. ya, Ninda telah ia nyatakan sebagai istri. mereka tidak menikah karena tidak ada orang yang menikahkan. Saksi mereka hanya Canis yang badannya semakin kecil saja.
Saat sedang merenung, tiba-tiba sebuah kelapa jatuh tepat disamping kiri Ardi.
Karena berada di tanah yang miring, buah kelapa itu menggelinding turun hingga ke air.

Ardi seketika memperoleh idenya.

"dapat!!" dengan antusias ia berteriak.

Cepat ia berlari hingga melupakan pancingnya. Ia berlari secepatnya ke rumah untuk memberi tahu istrinya.

"sayang, sayang. Saya tahu caranya nih!" teriak Ardi sambil memeluk istrinya yang sedang meracik bumbu.

"Bagaimana?" tanya Ninda
"Begini. Untuk memindahkan ulekan batu, cukup digelindingkan. Seperti ini."
katanya sdambil mencontohkan. "Lihat, tidak berat sama sekali kan. Tidak perlu di angkat" katanya.
"Oh, bagus sayang" balas Ninda senang.
Ardi merasa bangga dan mendapat kecupan mesra dari istrinya. Dengan tanpa beban ia berjalan kembali menuju tempatnya memancing.
Sementara itu, Ninda mencoba dengan kuali batu. Mudah sekali kalau digelindingkan. memang ada sedikit usaha untuk mengangkat sisi kuali agar dapat berdiri pada sisi samping agar dapat seperti roda. tapi itu tidak sesulit mengangkat semuanya.
ninda teringat pada bumbu-bumbu yang sudah di ulek dan di rajangnyaz. Ia harus memakai panci batu untuk memasak air agar dapat membuat sayur ikan. walau belum satupun ikan di dapat suaminya, tetap saja ia harus mempersiapkannya. ia menuju ke panci batu dan menggelindingkannya. Ternyata panci batu ini tidak punya sisi yang mudah digelindingkan. Ninda membolak-baliknyas dan terus mencoba hingga pada akhirnya ia berteriak nyaring, "AAaaaaaahhhhh!!!"
Ardi yang memancing di kejauhan segera berlari menuju istrinya.
"Ada apa sayang?" tanya Ardi kuatir.
"Tertimpa lagi. Jari kaki Ninda kegencet lagi. huaaaa....." ninda merintih kesakitan. ASrdi mengambil tanah liat basah untuk menutupi bengkak di kaku ninda. Belum sembuh bengkak kemarin kini sudah tertimpa batu lagi. dengan penuh kasih sayang dituntunnya sang kekasih ke tepi batu itu. tentu saja tidak bisa. "Gara-gara ini ya sayang?" tanya Ardi.
"Iya, susah banget" kata Ninda sambil menahan sakit.
ardi menghela nafas. Ia mengangkat panci batu itu dan meletakkannya di tungku.
"Panci ini harus dibuat lebih lonjong" katanya.
"Sudah dapat ikannya sumaiku?" tanya Ninda mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya. Sebentar ya. "ardi segera berlari menuju tempatnya memancing
Tak lama kemudian ia kembali tanpa membawa apa-apa.
"dapat?" tanya Ninda
"uh.. em. Anu. Pancingnya terseret ombak. Jadi hanyut. hehehe. Gak da ilan nih sayang" jawab Ardi sambil nyengir.
"Apa?!! Kaki Ninda udah bengkak tiga kali lipat dan pancingnya hilang?" Ninda menghardik.
"Aduh.. Maaf sayang. Maaf"
"Makan tanah saja sana!"
Plok. Ninda melempar wajah suaminya dsengan tanah liat. Dengan sangat kesal ia masuk ke rumah dan membanting pintu. bruk.
Ardi bengong. Sebentar kemudian ia membujuk istrinya. Tapi istrinya tetap berteriak, "Kalau gak ada makanan, makan tanah saja sana! Ninda udah capek!"
Ardi putus asa. Dihempaskan pantatnya di tanah. Dilemparkannya tanh liat ke arah perapian. Kepalanya pusing. Ia pun berbaring dan terlelap karena belaian angin pantai.
+++++++++++++++++++++++++
Tak terasa Ardi tertidur hingga pagi selanjutnya. Ia tidak kuasa memang untuk bangkit mengingat perut yang lapar. Hari ini ia akan memeriksa jebakan hewan di hutan dulu, siapa tahu tadi malam ada yang tertangkap. Ia duduk sebentar mengembalikan kesadaran saat ia melihat sesuatu di tumpukan api unggun yang telah kecil. Tanah liat kemarin.
Iseng di sodoknya tanah liat itu. Aneh. Rasanya tidak lembut lagi. ia mengeras. Ardi mengeluarkannya dari bara dengan kayu lalu memegangnya.
"Aw,aw, aw!" teriaknya kepanasan sambil memindahkan tanah liat bulat itu ke tangan kiri dan kanan kanan, sesekali meniupnya agar dingin.
Ninda sedang membuka pintu saat melihat semuanya seperti itu, satu kalimat peringatan langsung melintas di kepala "Ia akan memakan tanah itu!"
Cepat ia mencegah.
"sayang, sayang, jangan dimakan. Jangan dimakan." katanya sambil menuju ke arah ardi.
"Oh, bukan, bukan. lihatlah kemari. tanah ini mengeras. Seperti batu. Tapi lebih ringan" kata Ardi menunjukkan tanah liat tersebut.
"Lalu?"
"Ini bisa menjadi pengganti batu. Ia bisa dibentuk!" kata Ardi bersemangat.
"Bagus tuh, tapi jangan lupa makanan buat kita" jawab ninda.
"Yup" Ardi meraih tombaknya dan keranjang lalu berjalan masuk ke hutan. Ia akan mencari binatang yang terjerat di hutan dan juga tanah liat di pinggir sungai.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ardi menemukan seekor musang di jebakannya. ia telah cukup baginya untuk mengalihkan perhatian ke tujuan utamanya. Bergegas ia ke pinggir sungai dan mengumpulkan tanah liat.
"dapat apa sayang?" tanya sang istri kepada Ardi setibanya ia di rumah.
"Ini, lihatlah." kata Ardi sambil menenteng seekor musang dan sekeranjang tanah liat.
"Sekarang bagaimana?" lanjut Ardi
"Ninda kuliti dulu musangnya sementara saya akan buatin sesuatu buatmu kasih" kata Ardi.
Setelah itu Ardi segera mengeluarkan tanah liat dan membentuknya menjadi sebuah wadah bentuknya seperti panci.
"Tadaaaaa" katanya sambil mengacungkan panci buatannya.
"huuu lembek. Gak keras. Mana bisa buat masak"
ninda menekan-nekan panci itu dengan telunjuknya. Memang lembek. Bekas telunjuk jarinya membentuk lubang di badan panci. "Tuh. hmmm. Tunggu dulu di sini sayang" Ninda menjadi tertarik.
Ninda menghentikan pekerjaannya memotong daging musang. Ia mengingat kesukaannya dengan seni. Dibuatnya lukisan dirinya dengan jari di badan panci itu dan tersenyum. Ardi pun tidak mau kalah. Gambarnya dibuat lebih besar dari gambar Ninda di sisi lain panci. Ninda tersenyum. Jelas aslinya Ardi lebih kecil badannya ketimbang Ninda, tapi digambar itu dibuat sebaliknya.
“Sini, kita buat sama-sama lambang cintanya, sayang” rayu Ardi sambil memeluk Ninda dari belakang. Dipegangnya tangan Ninda dan bersama-sama mereka membuat lambang hati di antara kedua gambar mereka.
“I love You” kata Ninda. Mereka berpandangan lalu berciuman.
Ninda kemudian berdiri dan kembali ke pekerjaannya. Panci itu telah cantik penuh dengan hiasan.
“Sayang, membakarnya nanti saja. Kita masak daging musang ini dulu” kata Ninda.
Ardipun tidak jadi membawa panci tanah liat basah itu ke perapian. Dibiarkannya panci itu terjemur dan ia pergi ke tempat menyimpan panci batu. Diangkatnya panci batu itu.
Saat membawa panci batu itu, kakinya terpeleset bekas-bekas tanah liat yang licin di tanah. Dan …..
“Adooooouuwww…” teriak Ardi. Panci batu itu menimpa jempol kakinya.
“Giliran ya sayang. Hihihi.” Celetuk Ninda diiringi cekikan. Well, singkat cerita, mereka telah menemukan teknik pembuatan tembikar. Hidup mereka semakin mudah.

Kamis, 2008 November 06

BAB V QURBAN

selama hatiku tertambat pada luas dunia
kurajut hidupku bersama belaian laut yang menjamah jari-jari kakiku
bagaimana angin yang menyejukkan ini bisa mengantarkan sayap- sayap untuk engkau di seberang sana?

daku ingin engkau kemari
dan memaafkan segala salahmu
disaksikan ribuan bintang
dan nebula warna-warni
serta pohon kelapa yang menunduk takzim
pada pasir putih yang menopang hidupnya
agar diapun melihat
betapa aku menopangmu dengan cinta
dan kau tertunduk disertai senyum
untuk menerimaku sebagai pendamping hidup


tapi di dunia yang tiada bermatahari ini
aku harus segera pergi
kembali ke balik kabut

Pagi ini lebih dingin dari bisaanya. Ardi telah bisa menggembalakan ternak dan dengan dibantu Canis, mengelola peternakan besar. Kemana Ninda? Ia terbaring lemah di rumah. Infeksi di kakinya tidak kunjung membaik walau Ardi telah mencoba beragam ramuan.
Ardi sedang menata berbagai keramik indah yang dilukis istrinya. Selama sakit, Ninda memang tidak dapat berjalan sehingga ia menghabiskan waktu melukis keramik dari tanah liat. Pekerjaan sehari-hari dikerjakan oleh sang suami tercinta.
“Sayang, bagaimana sapi-sapi kita?” tanya Ninda dengan lemah saat Ardi pulang.
“Sehat-sehat sayang. Canis menjaganya. Bagaimana kakinya sayang?” jawab Ardi sambil tersenyum sabar.
“Semakin parah. Relakan ya Ardi?”
“Relakan apa?” tanya Ardi mendadak kaget.
“Ninda sudah tidak kuat. Cuaca terasa semakin dingin. Tulang-tulangku nyeri dan sakit sekali rasanya” kata Ninda.
“Jangan katakan itu Ninda, jangan”
“Hhhhhh. Ninda capek sekali. Maafkan Ninda sayang” ratap istrinya.
Lalu ninda memejamkan matanya. Ardi terpaku. Lama ia duduk sambil memegang tangan istrinya. Hingga ia akhirnya sadar, Ninda telah wafat.
Ardi merenung di depan mayat sang istri. Belum setahun memang, tapi perasaan itu begitu kuat. Cintanya pada Ninda melebihi cintanya pada Canis dan Erik. Ia telah belajar menghadapi kematian dan kehilangan untuk kedua kalinya. Ninda yang begitu lekat senyumnya dalam ingatan, gurauannya, ketangguhannya, cita rasa seni dan kecerdasannya. Semua begitu kuat. Seolah sang istri masih memeluknya dari belakang. Bukan terbaring kaku di depannya.
Ardi tidak dapat menerima bahwa orang-orang yang dicintainya mati dan menjadi tulang belulang. Ia ingin sekali bertemu mereka. Ia ingin bercengkerama dengan Ninda. Ia ingin berburu lagi dengan Erik. Mereka pasti masih hidup, entah dimana. Tapi nyata bagi Ardi, Ninda ada di depannya dan tidak bergerak. Erik ada di hutan seberang lautan. Daging Erik telah habis dicerna oleh serigala-serigala buas. Dan begitu juga nanti ninda, ia akan dicerna oleh cacing-cacing di dalam tanah. Tubuh mereka akan jadi komponen dalam jaring kehidupan. Pada akhirnya lenyap dalam rantai makanan. Bisa jadi, sapi yang dagingnya ia makan tadi pagi memakan rumput, dan rumput itu memakan nutrisi dari bangkai ikan. Ikan yang waktu hidup memakan cacing. Cacing yang memakan bangkai serigala dan serigala itu memakan daging Erik. Dan karena makanan di tubuh menjadi daging lagi, maka daging Ardi sendiri secara tidak langsung adalah daging Erik sebagiannya. Ada Erik di dalam dirinya.
Pemikiran untuk menjadi kanibal menggoda Ardi. Di satu sisi, ia ingin tetap bersama Ninda sehingga harus memakannya, di sisi lain ia tidak tega, ia tidak mampu menyakiti, mengiris sedikitpun kulit istrinya di saat hidup. Apalagi disaat ninda mati. Disaat ia mutlak tidak berdaya. Bahkan serigalapun tidak mau memangsa temannya. Pemikiran itu membuat Ardi muak. Ia benci jadi kanibal, ia benci pada hal-hal yang membuat istrinya mati.
Semakin dalam ia berpikir, rasa benci itu lari kepada dirinya sendiri. Tidak ada yang harus dibenci selain dirinya. Ia harus belajar dari kesalahan. Ardi menjadi semakin bijaksana.
Sungguhpun rasio lebih mendominasi dirinya, ada saat dimana Ardi begitu rindu pada Ninda. Ia masih tidak dapat menerima kematian Ninda. Maka, agar dirinya dapat menjumpai lagi sang kekasih, Ardi menciptakan ilusi. Sebuah khayalan bernama hidup sesudah mati.
Emosinya mengatakan kerinduan, akalnya merasionalkan dunia akhirat. Dengan percaya tanpa bukti bahwa akhirat ada, Ardi tidak terlalu sedih. Ia membayangkan istrinya berada di tempat terindah yang bisa ia khayalkan. Tentu saja itu Cuma imajinasi. Tapi Ardi telah melupakan bahwa itu adalah ilusi. Pemikiran bahwa Ninda lenyap untuk selama-lamanya membuatnya muak, lebih muak daripada memikirkan kanibalisme.
Dalam evolusinya sebagai manusia bijaksana, Ardi juga mengevolusi kemampuan imajinasi yang tinggi. Keningnya semakin besar untuk menampung generator imajinasi di otak depannya. Dan fungsi utama imajinasinya, adalah untuk bertahan hidup. Bahkan saat hidup tidak lagi dapat dipertahankan, imajinasi membuatnya percaya bahwa..
Hidup itu abadi. Bila tidak disini, ada di suatu tempat disana.
Setelah bau busuk muncul dari tubuh ninda, Ardi belum mau menguburkannya juga. Ia berupaya menghilangkan busuk itu. Diberinya tubuh ninda berbagai jenis ramuan tanaman. Begitu bau tersebut hilang, masalah lain muncul. Dagingnya semakin lunak dan hancur. Ardi mencari ramuan untuk mengawetkan ninda. Usahanya berhasil. Ia menjadikan tubuh Ninda mumi.
Sementara itu, musim dingin semakin kuat. Ardi tidakdapat lagi keluar rumah bertelanjang dada. Bila ia harus bekerja di luar rumah, maka itu harus dikerjakan secepatnya. Ardipun membangun sebuah bangunan megah. Makam untuk istrinya. Ia memugar rumahnya agar lebih kokoh, lengkap dengan tembok. Ia membangun istana dengan bangunan makam istrinya sebagai salah satu bagiannya. Selain itu, Ardi juga membunuh semua ternaknya. Ia memasukkan ternak-ternaknya ke dalam makam istrinya. Ia berkhayal, sapi-sapinya akan terkirim ke alam akhirat, tempat istrinya sekarang tinggal. Ilusi Ardi mulai membuahkan akibat bagi alam dan dirinya sendiri.