hidup
membawa
beban fantasi
yang berkobar
memancarkan kharisma
hingga indahnya terbawa
ke nurani alam bawah sadar
menelusup halus seperti sutera
diri yang dulu nyata tergores semua
kepastian tapi sekarang dikaburkan oleh aneka
warna yang terbang dan hinggap di jiwa-jiwa impian
selagi kalian terpana ketika kubangunkan dari sepi
carilah eksisku pada kuntum-kuntum ilusi
kejarlah cintaku pada jernihnya
udara hingga kalian
kehilangan logika
Seorang anak berusia 13 tahun yang lamban namun cerdik, demikianlah Ardi saat ini. Ia banyak menghabiskan waktunya mengembara di padang rumput Afrika membawa alat-alat batu tajam sebagai senjata. Kadang ia memungut berbagai buah dan sayuran yang dapat ia makan di dekat sumber-sumber air atau di sekitar hutan. Ia telah pandai berbicara dengan fasih dengan dirinya sendiri pula. Kadang di tengah malam di dekat api unggun, berspekulasi tentang langit dan bintang-bintang.
Hari ini ia tiba di sebuah daerah rimbun di tepi sungai besar. Ia sedang asyik menombak ikan saat sesuatu mendatanginya dari seberang. Sesosok manusia yang mengayuh sampan dari batang pohon yang dilubangi. Bagian belakang kepalanya lebih besar dari Ardi dan begitu pula tulang alisnya, lebih menonjol. Orang ini datang menyapa Ardi.
“Hai, bolehkah saya berlabuh disini?” pinta orang itu kepada Ardi.
“Siapa kau dan benda apa yang kau naiki itu?” tanya Ardi penuh penasaran.
“Saya Erik . Dan ini kendaraan yang saya buat sendiri. Saya menamakannya sampan.” Orang itu memperkenalkan diri.
“Erik. Hai, saya Ardi. Kamu boleh berlabuh disini. Tanah ini bukan milik siapa-siapa. Sampan, alat yang hebat. Dia tidak tenggelam. Pasti dibuat dari kayu pilihan” ucap Ardi.
“Kau mau mencobanya?” tanya Erik.
“Wah, tentu. Mau sekali. Bagaimana?” sambut Ardi.
Erik pun mengajari Ardi mengendarai sampan itu. Ardi naik ke atasnya dan betapa kagetnya ia saat sampan itu bergoyang. Ia melompat dari sampan.
“Whoaaa!!” teriak Ardi.
“Jangan takut. Ayo coba lagi. Belajar menyeimbangkan diri” dukung Erik.
Dengan takut-takut Ardi kembali mencoba, ia berhasil duduk tapi bergerak sedikit saja, sampan itu oleng dan Ardi tercebur ke sungai. “Byuuurr!!!”. Burung-burung di kejauhan beterbangan.
“Ayo semangat!! Semangat !!” sorak Erik. Mungkin ia jadi cheerleader pertama di dunia.
Ardi mengeluarkan ujung lidah dan dengan hati-hati mengambil posisi di dalam batang kayu. Kali ini begitu hati-hatinya ia hingga terpeleset batu kali dan terjerembab menghantam sampan. Sampan itu terbalik.
“Hihihi!!!”. Sambil tertawa dengan sabar, Erik membetulkan sampan. Kepala Ardi keluar dari air dan ia mengibas-ibaskan rambutnya yang keriting sepeti bebek yang habis menyelam. Ia kelihatan kesakitan. Ternyata bibirnya tergigit. Ia naik ke darat dan duduk. Lidahnya dijulurkan karena terasa sakit kalau dimasukkan ke mulut.
“Istirahat dulu. Nanti coba lagi. Oh ya, kau maukan jadi temanku? Aku seumur hidup belum pernah bertemu orang yang bisa di ajak berbicara”, pinta Ardi dengan gaya bicara yang lucu karena lidahnya yang terjulur.
“Tentu saja. Saya juga tidak punya teman. Saya mengembara untuk mencari teman. Sepi banget”, jawab Erik.
“Sudah berapa lama mengembara, Erik?” Tanya Ardi.
“Baru dari tadi saat matahari terbit” jawab Erik polos.
“Hooo?” Ardi keheranan.
“Begini. Saya sebenarnya tinggal di sebuah gua, tak jauh di balik pepohonan di seberang sana. Saya hidup tenang bertahun-tahun disana, sampai ada raksasa datang dan mengusir saya.”
“Raksasa?”
“Ya. Ia berjalan dengan empatkaki. Dia kera hitam yang besar sekali dan menyeramkan. Kalau dia berdiri, tingginya dua kali badan kita. Matanya merah dan pukulannya dapat menggoncangkan pintu goa. Saya ketakutan dan lari ke tepi sungai. Tinggal di tepi sungai saat malam. Raksasa itu tidak pernah pergi jauh dari goa. Saya bahkan tidak sempat masuk ke goa, karena raksasa itu tiba-tiba datang dari rimbunan pohon. Ia telah merampok goa ku. Enam hari saya menunggu dengan sia-sia, hingga memutuskan untuk pergi mengembara” jelas Erik dengan sedih.
Mereka diam sejenak. Ardi sebenarnya ingin membantu. Khususnya karena ia teman pertamanya dan mungkin satu-satunya teman yangbisa diajak bicara yang ada di bumi. Akan tetapi, mahluk yang ia akan hadapi sangat besar dan pasti sulit ditundukkan. Ia pernah melawan harimau gigi pedang atau bison yang sedang sakit atau sudah tua, dan mahluk ini sepertinya lebih kuat dan lebih pintar.
Kedua sahabat itu saling berpandangan. Melihat mata teman barunya, Ardipun luluh hatinya, keberaniannya muncul.
“Mari kita rebut lagi guamu!” Ardi berdiri penuh tekat.
“Wah, benarkah? Kau baik sekali, Ardi. Saya akan membantu sebisa mungkin.”
“Aku harus melihat seperti apa mahluk itu dulu” kata Ardi.
“Yap. Tapi kau harus belajar dahulu memakai sampanmu. Jadi kita bisa menyeberang sama-sama” saran Erik.
Maka kedua sahabat kitapun kembali bermain dengan sampan dan air. Ardi basah kuyup dan setelah beberapa kali tercebur, iapun ahli memakai sampan. Setelah itu, mereka membuat satu lagi sampan dari batang pohon yang rubuh. Ardi juga mengenalkan Erik pada api yang dipeliharanya. Dan setelah bekerja keras seharian, mereka bercengkerama di tepi sungai dengan mengelilingi api unggun. Bercerita tentang pengalaman mereka dan rencana-rencana untuk mengalahkan sang raksasa.
Raksasa hitam yang kekar, demikianlah kean pertama Ardi pada si monster. Mahluk ini seperti gorilla dengan ukuran tiga kali lipat. Ia keluar dari goa ke hutan dan jarang sekali tidur. Untungnya, mahluk ini tidak bisa memanjat pohon. Ardi dan Erik sedikit lega sambil menyusun rencana di atas pohon tak jauh dari goa.
Tibalah sebuah rencana brilian dari ardi. Ia akan memakai mahluk lain yang lebih besar dari sang gorilla untuk mengalahkannya. Ada banyak binatang besar di tempatnya, tapi ardi tidak tahu binatang apa saja yang ada di hutan, tempat Erik berasal.Erik menyarankan badak berbulu raksasa. . Badak ini tingginya sebanding dengan sang gorilla raksasa. Ia punya cula besar di depan dan dapat menghantam apa saja didepannya, bahkan batang pohon besar. Rencananya, Erik akan memancing sang badak menuju ke goa, karena ia hapal jalan di sekitar hutan. Mereka berharap, sang badak akan menyeruduk masuk ke gua dan membunuh gorilla raksasa yang sedang tertidur.
Erik turun dari pohon dan mengendap-endap dalam hutan mencari badak raksasa. Waktunya hanya sedikit dan jarak badak itu harus cukup dekat dari gua agar gorilla raksasa tidak keburu bangun. Ternyata ia beruntung, ada seekor badak yang sedang merumput tak jauh dari gua. Sekarang tinggal memancing badak menuju garis lurus yang langsung ke mulut gua dimana sang gorilla sedang asyik tertidur.
Awalnya badak itu cuek saja dengan Erik. Setelah dijalan yangbenar dan lurus, erik mengolok-olok sang badak seperti kera yang rebut (memang masih keluarga dengan kera sih). Si badak habis kesabaran dan beraksi. Ia menyeruduk kea rah Erik. Tunggang langgang Erik berlari, menerjang semak belukar terus kea rah gua. Sang badak menyusul di belakang. Tepat di depan gua, Erik langsung belok ke kiri dan melompat ke pohon, memanjat setinggi-tingginya hingga tanpa terasa sampai di puncak pohon dan dikerumuni semut merah. Sementarabadak yang beringas tidak dapat mengerem dan terus masuk ke dalam gua. Ardi memperhatikan di cabang pohon yang lebih rendah. Sejenak kemudian erik duduk disampingnya, wajahnya bengkak-bengkak. Bukan karena badak, tapi karena sengatan semut merah. Dengan tegang mereka menunggu hasil peristiwa di dalam gua.
Sebuah teriakan memecah kesunyian. Apakah itu suara gorilla yang menghembuskan nafas terakhirnya? Untuk tahu itu, tidak ada cara lain kecuali Ardi dan Erik memeriksa langsung ke gua. Dengan penuh hati-hati mereka turun. Belum mereka melangkah menuju goa, sesuatu muncul dari mulut gua. Sang gorilla raksasa! Dan ia menyeret bangkai badak yang malang! Kontan Ardi dan Erik ambil langkah seribu ke sungai. Sang gorilla sangat marah dan mengejar dari belakang. Bagi Erik, hari ini ia sial tiga kali, dikejar badak, disengat semut dan sekarang, dikejar gorilla. Tiba di sampan merekapun mengayuh seperti kesurupan. Gorilla raksa muncul di tepi sungai dan gilanya, masih membawa bangkai sang badak. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan sekuat tenaga melemparkan tubuh badak yangmati itu kea rah dua orang yang mengganggu tidur siangnya. Mereka telah sampai ke tepid an keluar dari sampan, ketika tubuh badak raksasa itu jatuh dan menimpa sampan mereka, hancur berkeping-keping.
Di malam hari, ardi dan erik melakukan briefing sambil menikmati daging badak. Erik tidak pernah mengira akan dapat makan daging binatang ganas ini, apalagi yang dimasak. Ardi begitu pula. Setidaknya mereka tidak perlu menombak ikan atau memburu kuda liar untuk makan malam.
“Aku ada ide!” seru Erik tiba-tiba.
“Bagaimana kalau kita beri sang pencuri gua itu daging ini. Badak sebesar ini tidak akan habis untuk kita berdua. Besok juga ia akan busuk. Sebagai ungkapan terima kasih, siapa tau ia mau mengembalikan guaku.” Kata Erik.
“Ide buruk. Gorilla itu jelas pemarah. Bisa-bisa kita yang dimakannya, kecuali…”
“Kecuali apa?” Tanya Erik penasaran.“Kecuali kalau kita beri getah tanaman bius di daging ini. Ketika ia memakannya, ia akan tertidur lama sekali. Kita bisa memindahkannya ke sampan dan menghanyutkannya” demikian ide Ardi.
“Tapi sampan kita telah hancur” balas Erik.
“Kita buat lagi, kita buat sampan yang lebih besar lagi. Cukup untuk menampung si raksasa itu.” Ujar Ardi penuh semangat.
“Ide bagus. Besok kita laksanakan!”
“Yap!”
Setelah sepakat dengan rencana itu, keduanya pun tidur dengan kekenyangan.
Pembuatan sampan baru berlangsung lancer. Ada sebuah pohon besar yang tumbang tak jauh dari tempat mereka dan pohon ini cocok untuk dijadikan sampan. Mereka cukup melubangi tengahnya dengan bantuan alat-alat tajam dari batu dan air sungai. Setelah sampan selesai mereka memuatnya dengan daging badak sisa tadi malam dan beberapa rumpun tanaman opium. Setelah semua siap, merekapun mengayuh bersama menuju ke seberang.
Mereka tiba di seberang dan menyelipkan sampan mereka di rerimbunan tanaman air. Membawa daging dan tanaman ke atas pohon. Di sana mereka menunggu sang raksasa untuk tidur siang, mengolesi daging dengan getah opium.
“Itu dia datang!” bisik Ardi dengan hati-hati.
“Siap-siap” kata Erik sambil memikul daging yang telah dibumbui opium ke punggungnya.
Sejurus kemudian, mereka turun dari pohon, mengendap-endap dan begitu tiba di mulut gua, meletakkan daging di sana dan segera pergi dengan diam-diam.
Cukup lama mereka mengamati, tapi si gorilla tidak keluar dan memakan umpan.
“Mungkin baunya kurang menusuk hidung” kata Ardi
“Kalau begitu kita masak saja” ide Erik.
“Benar sekali. Kau ambil api dari seberang dengan satu kayu obor lalu bawa kemari. Aku akan menusuk daging itu dengan kayu, lalu kita panggang di mulut gua” atur Ardi.
Erik bergegas turun dari pohon. Ia menaiki sampan dan pergi. Tak lama kemudian ia datang lagi dengan obor di tangan. Apinya diambil dari ibu api yang selalu menyala di api unggun mereka di seberang.
“Kemarikan apinya”, rupanya Ardi telah menyiapkan kayu-kayu teratur untuk memanggang daging umpan. Aromanya pasti akan tercium oleh sang raksasa dan raksasa itu bangun untuk memakannya.
“Yuk, cepat kita pergi!” ujar Ardi setelah menyulut kayu pemanggang. Mereka naik kembali ke pohon untuk mengintai.
Asap mengepul dari tempat memanggang daging. Asapnya lebih tebal dari bisaanya, tentunya karena kandungan opium di dalamnya. Ardi dan Erik menggosok mata. Mendadak mereka meraa sangat mengantuk. Ardi mencoba menahan diri pada ranting disampingnya. Tapi rasa kantuk begitu kuat. Erik yang tidak punya pegangan meraih bahu Ardi. Dan serentak mereka terjatuh.
Bruk!!
Mereka terjatuh dari pohon dan tepat ke atas perahu mereka. Karena guncangan tubuh mereka yang jatuh, sampan terserret ke air dan hanyut. Anehnya, Ardi dan Erik tetap tertidur pulas dalam posisi yang berantakan.
Sampan terus hanyut di sungai. Tidak ada yang menahan hingga percikan-percikan air akhirnya membangunkan mereka. Rasa tawar air sungai membasuh bibir dan mata mereka kembali segar. Terdengar suara gemuruh.
“Heh, dimana kita?” Ardi kebingungan.
“Air terjun!” teriak Erik panic. Ternyata mereka terseret menuju air terjun dan suara gemuruh itu tak lain suara air yang terjun bebas dari sungai dimana sampan mereka berada. Tak lama lagi nasib mereka akan sama. Ardi jadi ikut panic.
Untung bagi mereka. Ada sebuah tali dari akar-akaran yang menjuntai dari sebuah pohon di dekat bibir air terjun. Dengan cepat Ardi meraih tali itu. Erik melompat ke tali yang satunya lagi. Keduanya bergantungan disitu sambil melihat nasib sampan besar mereka yang jatuh dan hancur berderai di bawah sana.
Ardi dan erik memenajat tali ke dahan pohon besar. Ada seekor ular yang sedang santai. Karena kesal Erik menendang ular itu ke sungai. Malangnya, ular itu melilit kaki Erik dan membuatnya terpeleset, untung Ardi sigapmenangkap tangan Erik.
Setelah melepaskan ular yang protes itu, Erik dan Ardi termenung. Mereka mencoba mencari tahju kenapa mereka bisa sampai ke air terjun itu. Akhirnya Ardi tahu kalau asap daging yang mengandung opium itu telah membius mereka. Bila mereka saja terbius, apalagi si gorilla. Mungkin ia akan tertidur hingga beberapa hari. Itu kesempatan baik, sayangnya mereka tidka tahu ada dimana sekarang.
“Gimana lagi nih?” Tanya Erik
“Kita susuri sungai ini ke atas, sampai ke tempat kita atau gorilla itu berada. Ini kan sebelah kiri. Berarti kita akhirnya akan sampai di tempat ibu api. Semoga ia belum mati.” Harap Ardi.
Merekapun turun dari pohon itu. Erik terpeleset karena batang pohon itu licin oleh lumut. Ardi sedikit lebih beruntung.
*******************
Mereka akhirnya tiba di tempat ibu api. Ibu api terlihat sangat redup. Ardi cepat-cepat menambah kayu baker supaya ibu api tetap hidup. Kalau mati, mereka harus menunggu badai datang agar bisa memelihara ibu api lagi, itupun kalau beruntung.
Setelah api unggunnya menyala terang, Ardi mengurut kakinya. Erik malah terbaring kelelahan disampingnya, tepat di atas tikar dari kulit badak berbulu.
“Kita gagal terus” keluh Erik.
“Huff. Jangan menyerah. Aku masih punya ide.” Kata Ardi.
“Apa?”
“Kita jebak si gorilla dengan tali akar. Lihat betapa kokohnya tali itu menopang badan kita tadi. Kalau badan kita berdua bisa, mungkin si gorilla juga bisa.”
“Maksudmu ia kita gantung?” Tanya Erik
“Iya. Kita buat jebakan di depan gua. Saat ia keluar tali itu akan menarik kakinya. Ujung tali yang satu dihubungkan ke pemberat. Saat kakinya ada di dalam tali jerat, pemberatnya kita jatuhkan dari pohon. Dan ia akan langsung terjebak dan tertarik oleh pemberat” usul Ardi.
“Lalu setelah itu?” Tanya Erik lagi
“Pemberatnya jatuh langsung ke sungai. Jadi ia akan terseret dan tenggelam.”
“Kalau begitu pemberat itu harus lebih berat dari badannya. Pakai batu yang sangat besar. Ada di dekat gua. Kita harus mendorong batu itu hingga ke tepi sungai. Posisinya harus sedemikian hingga kita cukup mendorongnya saat si gorilla sudah terjebak” tambah Erik.
“Yap, demikian”. Dan rencana ketiga pun disusun.
Mereka meletakkan tali berbentuk jerat di mulut gua. Bentuknya sepeti laso besar yang bila ditarik akan mengecil dan mengikat apa yang masuk ke dalamnya. Ardi menunggu di balik pohon sementara Erik berada di tepi sungai, siap menendang batu besar yang jadi pemberat.
Saat yang ditunggu tiba, sang gorilla keluar untuk mencari makan. “Sekarang!!” teriak Ardi
Si gorilla menoleh tapi Erik lebih sigap. Batu raksasa itu berguling ke air dan menarik tali dari akar tanaman.
Brukkk!!!
Tubuh gorilla raksasa tergantung dan terus naik ke atas. Ardi dan Erik berharap si gorilla akan terseret hingga ke sungai dan tenggelam.
Erik dan Ardi bersorak gembira. Tapi sorakan mereka Cuma sebentar.
Jdukkk!!!
Tubuh gorilla raksasa jatuh tepat di depan mereka
“Aaaah!!!!” teriak mereka terkejut. Refleks mereka lari ke sungai. Ternyata tali akar tidak cukup kuat menopang berat si gorilla.
Wajah gorilla itu begitu penuh amarah hingga Ardi dan Erik mengayuh cepat sampan mereka yang entah generasi ke berapa.
Raut wajah Erik di hari ke enam petualangannya dengan Ardi terlihat semakin murung. Demikian pula Ardi. Pagi itu Ardi dan Erik duduk di tepi sungai. Langit tampak mendung.
“Erik, kita harus melindungi ibu api, sebentar lagi hujan. Ia bisa mati” ajak Ardi.
“Bagaimana Ardi?” Tanya Erik
“Saya juga tidak tahu. Oh. Hujan telah turun. Tidak, jangan mati….” Ardi putus asa saat hujan mulai turun. Api unggunnya akhirnya padam. Hujan bahkan kian lebat.
“Brrr…dingin sekali. Kalau saja kita da di gua ku, pasti hangat,” kenang Erik.
Keduanya meringkuk kedinginan di bawah pohon. Semuanya basah.
“Coba, pertama yang kita coba, kita dapat seekor badak berbulu, percobaan kedua kita hampir jatuh di air terjun kalau tidak ada tali akar dan ketiga kita berhadapan langsung dengan wajah si gorilla itu” ingat Ardi.
“Yap. Tapi percobaan pertama itu menguntungkan. Daging badak itu habis dan yang tersisa adalah kulitnya yang lebar ini” kata Erik sambil menunjuk kulit badak yang mereka duduki.
Ardi melihat ke kulit itu. Rasanya hangat. “Minggir sebentar” pinta Ardi
Ardi mengamati kulit badak itu. Ternyata ia tidak tembus air.
“Wah. Ini lebih hebat dari dedaunan” serunya. “Coba”. Ia meminta Erik berjongkok di bawah kulit itu. “Iya, tidak ada air!!” seru Erik.
“Hehe. Bagus juga. Tapi kita tidak bisa memegang kulit ini terus. Harus ada kayu yang menahannya” pikir Ardi.
Setelah melakukan beberapa percobaan dengan macam-macam kayu, batu dan tali. Akhirnya mereka menemukan bentuk yang paling nyaman. Sebuah tenda.
Horeee…
“coba masuk. Lihat di sini hangat dan tidak ada air” kata Ardi senang.
“Wah, kalau kita bawa ibu api baru ke dalam tempat ini, pasti lebih hangat lagi ya”
“Benar. Saat hujan reda kita cari ibu api baru” tekad Ardi.
Demikianlah, akhirnya persaingan dengan spesies lain mendorong mereka menemukan tempat tinggal yang tetap. Mereka tidak lagi tinggal di gua atau mengembara, mereka telah tinggal di rumah sederhana.